Perjuangan Mempertahanan
Kemerdekaan Indonesia
A. Konflik Indonesia-Belanda
pada Awal Kemerdekaan
1. Kedatangan Tentara Sekutu
dan NICA
Jepang menyerah terhadap Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945,
Sekutu menugaskan Jepang untuk mempetahankan keadaan seperti adanya (status
quo) sampai dengan kedatangan pasukan Sekutu di Indonesia. Pasukan Sekutu yang
bertugas menangani Indonesia bagian barat adalah AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) yang dibentuk oleh Mounbatten
di bawah pimpinan Letjen Sir Philip Christison.
Berikut adalah tugas AFNEI di Indonesia.
ü Menerimah
penyerahan dari tangan Jepang.
ü Membebaskan
para tawanan perang dan inteniran Sekutu.
ü Melucuti
dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian dipulangkan.
ü Menegakkan
dan mempertahankan keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah
sipil.
2. Konflik Indonesia Belanda
di Berbagai Daerah
1. Pertempuran
Ambarawa-Magelang
Pertempuran ini berlangsung pada tanggal 20 November 1945
sampai 15 Desember 1945. Adapun latar belakang peristiwa ini adalah bermula
dari insiden di Magelang sesudah mendaratnya Brigade Artileri dari Davisi India
ke-23 di Semarang pada tanggal 20 Oktober1945. Pada tanggal 26 Oktober 1945
berkembang pertempuran antara pasukan TKR dan pasukan gabungan sekutu-inggris
serta NICA. Insiden ini berhenti setelah Presiden Soekarno dan Brigadir Jendral
Bethell datang ke magelang pada tanggal 2 November 1945.
Pada tanggal 26 November 1945, terjadi serangan udara yang
dilancarkan oleh Sekutu dan Belanda. Dalam serangan ini Letkol Isdiman gugur.
Setelah itu, Koloniel Sudirman turun kegelanggang dengan dibantu oleh Letkol
Gatot Subroto sebagai komandu tempur. Kemenangan pertempuran Ambarawa ini
mempunyai arti pernting. Karena apabila musuh berhasl menguasai Ambarawa, maka
akan mengancam tiga kota sekaligus yaitu : Surakarta, Magelang, dan Yogyakarta
sebagai markas tertinggi TKR.
2. Pertempuran Di Medan Area
Pasukan AFNEI dari Brigade 4 yang diboncengi tentara NICA
mendarat pertama kalinya di Belawan, Sumatra Utara pada tanggal 9 Oktober 1945.
Pasukan ini di bawah pimpinan Brigjen T.E.D Kelly. Sehari setelah mendarat,
pasukan AFNEI membebaskan tawanan perang yang sebagian besar adalah orang-orang
belanda. Para tawanan itu kemudian dipersenjatai dan dibentuk menjadi Medan
Batalion KNIL. Pasukan ini kemudian melakukan propaganda-propaganda dan
bersikap arogan. Sikap arogan battalion memancing perlawanan dari pihak pemuda.
Pada tanggal 13 Oktober 1945 terjadi insiden pertama di hotel Jalan Bali,
Medan, insiden ini bermula dari seorang penghuni hotel yang merampas dan
menginjak-injak lencana merah putih yang dipakai oleh seorang warga setempat.
Dalam insiden tersebut jatuh 96 korban luka-luka yang sebagian besar
orang-orang NICA.
AFNEI mengeluarkan ultimatum yang memerintahkan TKR dan
laskarnya menyerahkan senjata pada tanggal 18 Oktober 1945. Memasuki bulan
april 1946, AFNEI mendesak unsur-unsur Republik Indonesia ke luar kota Medan.
Gubernur, TKR, dan wakil kota medan memindahkan pusat kegiatan ke pemantang
siantar karena kota medan telah dikuasai oleh AFNEI. Para komandan yang
berjuang di Medan area mengadakan pertempuran di Tebing Tinggi pada tanggal 10
Agustus 1946. Dalam pertempuran tersebut memutuskan untuk membentuk satu
komando yang bernama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area yang membawahi 4
sektor perjuangan.
3. Bandung Lautan Api
Pasukan AFNEI memasuki kota Bandung sejak bulan Oktober 1945.
TKR bersama rakyat sedang berjuang merebut senjata dari tangan jepang. Dalam
waktu bersamaan AFNEI menuntut pasukan Indonesia untuk menyerahkan senjata.
Tuntutan itu disertai dengan ultimatum supaya TKR meninggalkan kota bandung
bagian utara paling lambat tanggal 29 Oktober 1945. Rakyat Bandung menolak,
untuk menyelesaikan masalah tersebut dilakukan perundingan dengan kesepakatan
bahwa Bandung dibagi menjadi dua dengan batasan rel kereta api, yaitu sebelah
utara ikuasai oleh Sekutu dan sebelah selatan dikuasai oleh Indonesia.
Pada tanggal 23 Maret 1945, AFNEI mengeluarkan ultimatum
untuk kedua kalinya supaya TKR (tanggal 25 Januari 1946 TKR diubah namanya
menjadi Tentara Republik Indonesia meninggalkan seluruh kota bandung. Kemudian
TRI secara berangsur-angsur meninggalkan kota Bandung. Tindakan pembumihangusan
itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api yang terjadi
pada tanggal 24 Maret 1946. Pada peristiwa tersebut jatuh korban yang bernama Mohammad Toha yang meninggal ketika meledaknya gudang mesiu
NICA.
4. Pertempuran di Surabaya
Pada tanggal 25 Oktober 1945 pasukan AFNEI dari brigade 49
mendarat di Tanjung Perak , Surabaya. Pasukan ini dipimpin oleh Brigjen A.W.S. Mallaby. Pihak AFNEI
menjamin bahwa tidak ada pasukan Belanda yang membonceng dan tugas mereka hanya
melucuti tentara Jepang. Ternyata AFNEI melanggar kesepakatan itu dengan berbagai provokasi, diantaranya
membebaskan seorang koloneil Angkatan Laut Belanda saat penyerbuan penjara di
kalisosok, pendudukan tempat-tempat penting seperti di Tanjung Perak, Kantor
Pos Besar, Gedung Internatio dan penyebaran pamflet yang berisi perintah kepada
rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata yang dirampas dari tangan tentara
jepang.
3. Perjuangan Diplomasi
Indonesia
a. Perjanjian Linggajati (10
November 1946)
Perundingan dilakukan di Linggajati sebelah selatan Cirebon
dipimpin oleh Lord Killearn. Delegasi
Indonesia dipimpin oleh Sultan Syahir Dari Belanda dipimpin oleh Prof. Schermerhorn.
Hasil perjanjian Linggajati adalah sebagai berikut.
1. Pemerintah Belanda mengakui
kedaulatan RI secara de facto atau jawa, Madura, dan Sumatra.
2. Pemerintah Belanda dan Indonesia
bersama-sama menyerenggarakan berdirinya sebuah Negara federal bernama Negara
Indonesia serikat.
3. Pemerintah Negara Indonesia Serikat
akan bekerja sama dengan pemerintah Belanda dengan membentuk uni
Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuannya.
Setelah Perjanjian Linggajati ditandatangani, hubungan
RI-Belanda tidak menjadi lebih baik karena adanya perbedaan penafsiran isi
perjanjian tersebut. Belanda tetap berkeyakinan bahwa RI menjadi anggota
persemakmuran yang berbentuk federasi , namun semua hubungan eksternalnya
diurus oleh belanda.
b. Agresi Militer Belanda I
dan Perjanjian Renville
Pada tanggal 21 Juli 1947, Belanda melakukan agresi tebuka
yang menimbulkan reaksi hebat dari dunia internasional. india dan Australia
mengajukan permintaan resmi agar masalah Indonesia segera dimasukkan dalam
daftar agenda Dewan Keamanan PBB dan diterimah oleh PBB. Dewan Keamanan PBB
pada tanggal 1 Agustus 1947 memerintahkan penghentian perumusan yang mulai
berlaku sejak tanggal 4 Agustus 1947. Komisi Konsuler diketuai oleh konsul
Jendral Amerika Serikat Dr. Walter Foote
dengan anggota konsul Jendral Cina ,
Belgia, Prancis, Inggris, dan Australia. Komisi Konsuler dalam laporannya kepada
Dewan Keamanan PBB menyataan bahwa tanggal 30 Juli-4 Agustus 1947 pasukan
Belanda masih mengadakan gerakan militer. Pada tanggal 18 Sepember 1947 Dewan Keamanan PBB membentuk
Goodwil Commission (Komisi Jasa-jasa Baik) atau lebih dikenal dengan nama
Komisi Tiga Negara (KTN). Anggota KTN adalah Australia (Richard C. Kirby)
dipilih oleh Indonesia, Belgia (Paul Van Zeeland) dipilih oleh Belanda dan
Amerika Serikat (Frank B. Graham) dipilih oleh Australia dan Belgia.
Tugas KTN
adalah membantu menyelesaikan konflik antara RI dan Belanda dengan mengusahakan
penyelesaian persoalan secara damai. KTN juga sepakat untuk pertama-tana
menyelesaikan malasah militer, sedangkan untuk masalah konflik KTN sepakat
hanya member saran.
KTN
mengusulkan diadakan perundingan di atas kapal UUS Renville antara Indonesia
dan Belanda. Degelasi Indonesia dipimpin oleh Amir Syarifuddin dan dari Belanda
dipimpin oleh Abdul Kadir Wijoyoatmojo. Akhirnya pada tanggal 17 Januari 1948
disepakati dan ditandatangani dengan hasil perundingan sebagai berikut.
1.
Penghentian Tembak-menembak
2. Daerah-daerah dibelakang garis Van Mook harus dikosongkan
dari pasukan Indonesia.
3. Belanda bebas membentuk Negara-negara federal didaerah-daerah
yang didudukinya.
4. Dalam Uni Indonesia- Belanda, Negara Indonesia Serikat
sederajat dengan kerajaan Belanda.
Akibat
dari hasil perjanjian Renville wilayah Indonesia menjadi semakin sempit. Bagi
kalangan partai politik, hasil perundingan memperlihatkan kekalahan perjuangan
diplomasi. Bagi TNI hasil perundingan Renville menyebabkan harus ditinggalkan
sejumlah wilayah. Perjanjian ini berakhir ketika Belanda mengadakan Agresi
Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.
c. Perundingan Roem-Royen
Untuk
menjami keberhentinya Agresi Militer Belanda II, PBB membentuk United nations
Commission for Indonesia (UNCI) atau komisi PBB untuk Indonesia. Komisi ini
berhasil mempertemukan Indonesia- Belanda yang dipimpin oleh Merle Cochran (wakil amerika dalam
UNCI). Delegasi RI dipimpin oleh Mr. Mohammad Roem dan Belanda dipimpin oleh
J.H.Van Royen. Perudingan dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan pada tanggal 7
Mei 1949 baru dicapai persetujuan yang dikenal dengan persetujuan Roem-Royen.
Berikut hasil
persetujuan Roem-Royen.
1. Penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta dilakukan pada
tanggal 24-29 Juni 1949.
2. Tanggal 29 Juni 1949 TNI mula memasuki kota Yogyakarta.
Tanggal 10 juli 1949, Panglima Besar Jendral Sudirman baru tiba di Yogyakarta.
3. Setelah Yogyakarta dikuasai sepenuhnya oleh TNI, presiden
dan wakil presiden beserta para pemimpin lainnya tiba di Yogyakarta pada
tanggal 6 Juli 1949.
4. PDRI di Bukittinggi menyerahkan kembali mandatnya kepada
pemerintah pusat Yogyakarta. Penyerahan ini dilaksanakan pada tanggal 13 Juli
1949.
d. konferensi
Inter-indonesia
Lata
belakang adanya Konferensi Inter-indonesia adalah adanya keinginan menjalin
persatuan dan sikap bersama untuk menghadapi Belanda dalam KMB. Konferensi
Inter-indonesia berlangsung dua
tahap. Pada tahap pertama konferensi berlangsung di Yogyakarta pada tanggal
19-22 Juli 1949 dengan keputusan penting yaitu pembentukan Negara Indonesia
Serikat dengan nama RIS. Konferensi ini dihadiri oleh wakil pihak Indonesia Drs. Moh. Hatta, pihak BFO diwakili
oleh Sultan Hamid II, dan pihak
Belanda hadir sebagai peninjauan yatu Van
Maarseveen. Dari hasil konferensi Inter-Indonesia tersebut, antara RI dari
BFO sepakat bersama-sama menghadapi Belanda dalam KMB.
e. Konfeensi Meja Bundar (KMB)
Hasil KMB adalah sebagai berikut.
- Kerajaan Belanda
mengakui kedaulatan Indonesia sepenuhnya tanpa syarat.
Pengakuan kedaulatan
akan dilaksanakan selambat-lambatnya pada tanggal 30 Desember 1949.
- RIS terdiri dari
lima belas Negara federal. corak pemerintahan RIS diatur menurut konstitusi
yang dibuat oleh delegrasi RI dan BFO selama KMB berlangsung.
- RIS dan kerajaan
Belanda akan membentuk uni Indonesia-Belanda dibawah pimpinan ratu belanda.
- Pasukan Belanda akan
ditarik mundur dari Indonesia, sedangkan KNIL akan dibubarkan dengan catatan
anggotanya boleh masuk dalam TNI.
- Masalah irian barat
akan dibicarakan setahun kemudian setelah penyerahan kedaulatan.
Pada
tanggal 27 Desember 1949 diadakan acara penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada
Indonesia. Di belanda bertempat di ruang takhta Amsterdam, pengakuan kedaulatan
ditandatangani oleh Ratu Juliana, perdana menteri Belanda Dr. Willem Drees, menteri Seberang Lautan
Mr.A.M.J.A Sassen dan Ketua Delegrasi RIS Drs. Moh. Hatta.
Dengan
adanya persetujuan KMB pada tanggal 2 November 1949, maka terbentuklah Negara Republik
Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian, yang terpenting
adalah Republik Indonesia, Negara Sumatra Timu, Negara Pasundan dan Negara Indonesia
timur. Presiden RIS adalah Ir. Soekarno dan Mh. Hatta diangkat sebagai perdana
menterinya. Kabinet RIS adalah zaken cabinet, artinya cabinet yang anggotanya
dipilih dengan mengutamakan keahliannya bukan cabinet koalisi yang hanya
bersandar pada kekuatan partai-partai politik yang ada.
Berikut contoh soal dan
pembahasan tentang materi Konflik
Indonesia-Belanda pada Awal Kemerdekaan
1. Sebutkan Kepanjangan
dari AFNEI ?
Jawab : ……………………………………………………
Allied Forces
Netherlands East Indies
2. Sebutkan tugas AFNEI di Indonesia ?
Jawab : ……………………………………………………
- Menerimah penyerahan dari tangan Jepang.
- Membebaskan para tawanan perang dan inteniran Sekutu.
- Melucuti dan mengumpulkan orang Jepang untuk kemudian
dipulangkan.
- Menegakkan dan mempertahankan
keadaan damai untuk kemudian diserahkan kepada pemerintah sipil.
3.
Kapan pasukan AFNEI dari Brigade 49 mendarat di Tanjung Perak, Surabaya
?
Jawab : ……………………………………………………
Pada tanggak 25 Oktober 1945
4.
Pada tanggal berapakah AFNEI mengeluarkan ultimatum yang isinya, Pihak
AFNEI menuntut balas atas kematian Brigjen Mallaby yang menjadi tanggung jawab
Surabaya.
Jawab : ……………………………………………………
Pada tanggal 9 November 1945
5. Sebutkan Hasil Pejanjian Linggajati ?
Jawab : ……………………………………………………
1. Pemerintah Belanda mengakui
kedaulatan RI secara de facto atau jawa, Madura, dan Sumatra.
2. Pemerintah Belanda dan Indonesia
bersama-sama menyerenggarakan berdirinya sebuah Negara federal bernama Negara
Indonesia serikat.
3. Pemerintah Negara Indonesia Serikat
akan bekerja sama dengan pemerintah Belanda dengan membentuk uni
Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuannya
6. Siapakah yang memimpin Perundingan yang dilakukan di Linggajati sebelah selatan ?
Jawab : ……………………………………………………
Lord Killearn
7.
Sebutkan kepanjangan dari KTN dan
anggota KTN ?
Jawab : ……………………………………………………
Komisi Tiga Negara , Anggota KTN adalah Australia (Richard C.
Kirby) dipilih oleh Indonesia, Belgia (Paul Van Zeeland) dipilih oleh Belanda
dan Amerika Serikat (Frank B. Graham) dipilih oleh Australia dan Belgia.
8. Sebutkan Hasil Persetujuan Roem-Royen ?
Jawab : ……………………………………………………
1. Penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta dilakukan pada
tanggal 24-29 Juni 1949.
2. Tanggal 29 Juni 1949 TNI mula memasuki kota Yogyakarta.
Tanggal 10 juli 1949, Panglima Besar Jendral Sudirman baru tiba di Yogyakarta.
3. Setelah Yogyakarta dikuasai sepenuhnya oleh TNI, presiden
dan wakil presiden beserta para pemimpin lainnya tiba di Yogyakarta pada
tanggal 6 Juli 1949.
4. PDRI di Bukittinggi menyerahkan kembali mandatnya kepada
pemerintah pusat Yogyakarta. Penyerahan ini dilaksanakan pada tanggal 13 Juli
1949.
9. Untuk menjami keberhentinya Agresi Militer Belanda II, PBB
membentuk …..
Jawab : ……………………………………………………
United nations Commission for Indonesia (UNCI) atau komisi
PBB untuk Indonesia
10. Sebutkan
Hasil KMB ?
Jawab : ……………………………………………………
- Kerajaan Belanda
mengakui kedaulatan Indonesia sepenuhnya tanpa syarat. Pengakuan kedaulatan
akan dilaksanakan selambat-lambatnya pada tanggal 30 Desember 1949.
- RIS terdiri dari
lima belas Negara federal. corak pemerintahan RIS diatur menurut konstitusi
yang dibuat oleh delegrasi RI dan BFO selama KMB berlangsung.
- RIS dan kerajaan
Belanda akan membentuk uni Indonesia-Belanda dibawah pimpinan ratu belanda.
- Pasukan Belanda akan
ditarik mundur dari Indonesia, sedangkan KNIL akan dibubarkan dengan catatan
anggotanya boleh masuk dalam TNI.
- Masalah irian barat
akan dibicarakan setahun kemudian setelah penyerahan kedaulatan.
Demikian contoh soal dan
pembahasan tentang materi Konflik Indonesia-Belanda pada Awal Kemerdekaan.
Terima Kasih atas kunjungan anda.
0 Response to "soal dan pembahasan tentang materi Konflik Indonesia-Belanda pada Awal Kemerdekaan"
Post a Comment